Peran Konselor dalam menghadapi Perilaku Temper tantrum

David Ari Setyawan

Abstract


Anak usia 4-7 tahun merupakan masa untuk berkenalan dan belajar menghadapi rasa kecewa saat apa yang dikehendaki tidak dapat terpenuhi. Rasa kecewa, marah, sedih dan sebagainya merupakan suatu rasa yang wajar dan natural. Namun seringkali, tanpa disadari orang tua ‘menyumbat’ emosi yang dirasakan oleh anak. Misalnya saat anak menangis karena kecewa, orangtua dengan berbagai cara berusaha menghibur, mengalihkan perhatian, memarahi dan sebagainya demi menghentikan tangisan anak. Hal ini sebenarnya membuat emosi anak tak tersalurkan dengan lepas. Jika hal ini berlangsung terus menerus, akibatnya timbullah yang disebut dengan tumpukan emosi. Tumpukan emosi inilah yang nantinya dapat meledak tak terkendali dan muncul sebagai temper tantrum.
Meluapkan kemarahan dengan tindakan - tindakan yang berbahaya dan menimbulkan cedera adalah salah satu bentuk tantrum agar anak mendapatkan apa yang ia inginkan. Perwujudan tantrum pada anak yang dapat menimbulkan resiko cedera tersebut dapat berupa menjatuhkan badan ke lantai, memukul kepala, atau melempar barang, hal ini diduga merupakan bentuk awal dari temper tantrum pada saat anak sudah mampu mengekspresikan rasa frustasinya. Jika temper tantrum telah terlanjur muncul dalam bentuk perilaku yang membahayakan dan berpotensi menimbulkan kerusakan, maka tindakan intervensi harus segera dilakukan. Semakin besar anak, tenaga juga semakin kuat dan akan semakin sulit bagi orang tua untuk mengendalikan atau mencegah tingkahlakunya yang tidak terkendali. Selain itu timbunan emosi ini juga dapat mengarah pada ‘kerusakan’ lain baik secara fisik ataupun bentuk perilaku berbohong, menyalahkan orang lain, menutup diri, merebut milik orang lain secara paksa dan sebagainya (Rulie, 2011).


References


Dariyo, Agoes. (2007). Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama. Bandung: Refika Aditama.

Gunarsa, Singgih D. (2008). Psikologi Anak dan Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Hayes, Eileen. (2003). Tantrum. Jakarta: Erlangga

Hurlock, E.B. (1998). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Hagan, Jessica S. (2006). Mendidik Anak Memasuki Usia Prasekolah. Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya.

Hasan, Maimunah. (2011). Pendidikan Anak Usia Dini. Jogjakarta: Diva Press.

Indraswari, Ayunita. (2012). Perilaku Sosial Pada Kanak-Kanak Awal yang Mengalami Temper Tantrum (Studi Kasus di KB Permata Hati Desa Kebon Agung Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan). Skripsi Universitas Negeri Semarang

Ismaya, Y. (2010). Pengaruh Penggunaan Timeout Terhadap Penurunan Temper Tantrum Pada Usia Balita. Jurnal. Pekanbaru: PSIK UR.

Junita.T, Inneke. (2013). Gambaran Strategi yang Dilakukan Orang Tua dalam Menghadapi Tantrum pada Anak dengan Autism Spektrum Disorder. Jurnal.Pekanbaru.

Kartono, Kartini. (1991). Bimbingan Bagi Abak dan Remaja yang Bermasalah. Jakarta: CV. Rajawali.

Latipun. (2004). Psikologi Eksperimen Edisi II. Malang: UMM Press.

Pratisti, Wiwien Dinar. (2008). Psikologi Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.

Salkind, Neil J. (2002). Child Development. USA: Macmillan Reference.

Santrock, J.W. (2002). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup (Edisi Kelima). Jakarta: Erlangga.

Setiawani, Mary Go. (2000). Menerobos Dunia Anak. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.

Soetjiningsih, Christiana Hari. (2012). Perkembangan Anak. Jakarta: Prenada Media Group.

Sugiyono. (2009). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Yusuf, H. Syamsu. 2011. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.




DOI: http://dx.doi.org/10.21043/konseling.v3i1.5580

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexed By: