Muslim Puritan Dan Muslim Moderat (Pembacaan Terhadap Kedudukan Perempuan)

Munawir Munawir

Abstract


Muslim puritan-dengan semangat kembali pada al-Quran dan Sunnah menjadikan Islam pada masa Nabi saw sebagai model yang otentik dan Final. Dengan pendekatan tekstualis, mereka memahami Islam secara rigid sehingga segala tampilan Islam yang bercampur dengan lokalitas setempat (non-Arab) harus disterilisasi supaya murni kembali. Berbeda dengan muslim moderat, sekalipun mempunyai faham yang sama kembali pada al-Quran dan sunnah, namun tidak menggunakan pendekatan tekstualis tetapi menggunakan pendekatan kontekstualis ataupun filosofis. Kajian ini didasarkan pada kajian kesejarahan dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Islam pada masa Nabi saw dipandang oleh muslim moderat sebagai Islam yang mampu berdialektika dengan sosio-kultur masyarakatnya, karena mereka memahami Islam secara lentur dan fleksibel. Dengan pendekatan yang berbeda dalam gerak kembali pada al-Quran dan Sunnah menyebabkan episteme ber-Islam kedua kelompok ini berbeda, sebagaimana tampak pada isu kedudukan perempuan. Hanya saja dalam panggung sejarah, kelompok muslim puritan seringkali menggunakan cara kekerasan atas nama agama untuk mempertahankan dan menyebarkan ideologinya.

 

Puritan Muslim and moderate Muslims (Readings on the Women Status). Puritans Muslim -with a spirit of the Quran and Sunnah- made Islam in the time of Prophet Sawas an authentic and final model. Using a textual approach, they understand Islam rigidly so that all the features of Islam mixed with local locality (non-Arabic) are considered to be viruses and must be sterilized to get pure. In contrast to moderate Muslims, though both of them are in line with the Qur'an and Sunnah, they are not using a textual approach but contextualist or even philosophical. Islam at the time of the Prophet saw was viewed by moderate Muslims as a historic and dialectical Islam with socio-cultural society, because they understand Islam flexibly. With different approaches in the return movement in the Quran and Sunnah, the two Islamic epistemes are different, as seen in the issue of women's position. In the history, Puritan Muslims often use violence in the name of religion to defend and spread its ideology. The above study is based on historical study with descriptive-qualitative approach.


Keywords


puritan, moderat, wahabi, salafi, dan kedudukan perempuan

Full Text:

PDF

References


Abbas, H. (2004). Kritik Matan Hadis, Versi Muhaddisin dan Fuqaha. Yogyakarta: Teras.

Abdullah, A. (2003). Pendekatan Hermeneutika dalam Studi Fatwa-fatwa Keagamaan. In Atas Nama Tuhan. Jakarta: Serambi.

Abdullah, A. (2016). Harmonisasi Hubungan antar Umat Beragama: Peran Tokoh Agama dan Politik dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama. Harmonisasi Umat Beragama. Kudus.

Al-Kirmani. (1991). Al-Kirmani Syarh Sahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ihya’ Al-Turas Al-Arabi.

Al-Utsmain. (n.d.). Fatawa Al-Syaikh.

Azwar, S. (2010). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

El Fadl, K. A. (2001). Melawan Tentara Tuhan. Jakarta: Serambi.

Esposito, J. L. (2004). Islam Warna-Warni. Jakarta: Paramadina.

Fadl, K. M. A. el-. (2003a). The Ugly Modern and The Modern Agly: Reclaime The Beautiful in Islam. Gender and Pluralism.

Fadl, K. M. A. el-. (2003b). Tuhan dari Fikih Otoriter ke FIkih Otoritatif. (L. Yasin, Ed.). Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Idahram, S. (2013). Sejarah Berdarah. Jakarta: LKis.

Ilyas, H. (2004). Akar Fundamentalis dalam Perspektif Tafsir AL-Quran. In A. M. Abegebriel & A. Y. A. Abeveiro (Ed.), Negara Tuhan The Thematic Encyclopdeia. Yogyakarta: Multi Karya Grafika.

Izutsu, T. (2004). God and Man in the Qur’an: Semantic of teh Qur’an Wltanschauung. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust.

Khaled, A. E. F. (2003). Atas Nama Tuhan. Jakarta: Serambi.

Khalid M.Abou el, F. (2006). Selamatkan Islam dari Muslim Puritan. (H. Mustafa, Ed.). Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Mahendra, Y. I. (1996). Fundamentalisme, Faktor dan Mada depannya. In Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam. Jakarta: Paramadina.

Mudzhar, A. (2002). Pendekatan Studi Islam (dalam Teori dan Praktek). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muhtador, M. (2012). OtoritasTeks Sunah dan Problem Otoritarianisme (Sudi Pemikiran Khaled M. Abou El-Fadl). STAIN Kudus.

Najib, A. M. (2009). Gerakan Wahabi: Ajaran dan Metode Penyebaran. In Gerakan Wahabi di Indonesia. Yogyakarta: Nawasewa Press.

Nawawi, A. (1972). Sahih Muslim Bi Syarh Al-Nawawi. Beriut: Dar Al-Fikr.

Nurhakim, M. (n.d.). Islam Tradisi dan Reformasi. Bayumedia Publishing.

Rahman, F. (2000). Gelombang Perubahan dalam Islam: Studi tentang Fundamentalisme Islam. Jakarta: Rajawali Press.

Sindhunata. (2004). Berfilsafat di Tengah Zaman Merebak Teror. Basis, (11–12).

Sugiyono. (2005). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfath Offset.

Tibi, B. (2000). Ancaman Fundamentalisme. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Watt, W. M. (1997). Fundamentalisme Islam dan Modernitas. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Yunanta, S. (n.d.). Gerakan Militan Islam di Indonesia dan di Asia Tenggara. Jakarta: Friedrich-Ebert-Stiftung.




DOI: http://dx.doi.org/10.21043/fikrah.v5i1.2068

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Fikrah : Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan
Published by Faculty of Ushuluddin
Sekolah Tinggi Agama Islam Kudus, Indonesia
Jl. Conge Ngembalrejo Bae Kudus Po Box. 51
Phone: +62291-432677
Website: http://stainkudus.ac.id/
Email: ushuluddin@stainkudus.ac.id

ISSN: 2354-6174 | EISSN: 2476-9649

Creative Commons License
Fikrah Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan by Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.