Yang Kotor yang Menyucikan: Sakralitas Darah Menstruasi Perempuan dalam Jejaring Kultural (Pela) di Maluku

Stevanus Oita, Izak Y.M Lattu, Ebenhaizer I Nuban Timo

Abstract


This article aims to describe and explain the culture of pela blood or cultural networking in the people of Lumahpelu and the Sohuwe Country indigenous community on Seram Island, Maluku. Interviews, documentary studies and literature studies are used to obtain data. During this time the stigma that appears in society about menstrual blood is something that is dirty and unclean, thus separating individuals from the community. But this article reveals that menstrual blood integrates the people of the home country and the country of Sohuwe as a pela bond. Pela bonds live through the sacrality of menstrual blood which is the implementation of the ceremonies of the period of cultural transition (pinamou). This article concludes that blood circulation is a collective identity that contains the value of solidarity.


Keywords


Pela, Menstrual Blood, Lumahpelu, Sohuwe, Maluku

Full Text:

PDF

References


Adam, J. (2007). Forced Migration, Adat, and A Purified Present In Ambon, Indonesia. Ethnology, 39(1).

Agusyanto, R. (1995). Dampak Jaringan Jaringan Sosial dalam Organisasi: Kasus PAM Jaya, DKI Jakarta”. Universitas Indonesia.

Ahmad, S. (2017). Simbol Dan Makna Budaya Nyawe? Dan Beras Pati: Upaya Pemertahanan Bahasa Masyarakat Sasak. Ilmu Bahasa dan Sastra, 14(1), 79–88.

Al Qurtuby, S. (2007). Religious and conciliation in Indonesia: Christians and Muslims in the Moluccas. Contemporary Souteast Asia, 39(1).

Al Qurtuby, S. (2013). Peacebuilding in Indonesia: Christian – Muslim Alliances in Ambon Island. Islam and Christian – Muslim Reation Journal, 24(3).

Aponno, E. H. (2017). Budaya Lokal Maluku “Pela Gandong” dalam Konteks Perilaku Organisasi. Jurnal Manajemen, 3(1).

Arnold, G. V. (1960). The Rites of Passage. London: Routledge and Kegan Paul.

Colombijn, F. (2018). The Production of Urban Space by Violence and its Aftermath in Jakarta and Kota Ambon, Indonesia. Ethnos, 83(1).

Dandirwalu, R. (2014). Totem Ambon Manise: Membongkar Segregasi Teritorial Berbasis Agama di Kota Ambon. Antropologi Indonesia, 35(1).

Dhavamony, M. (1995). Fenomenologi Agama. Yogyakarta: Kanisius.

Eliade, M. (1987). Encyclopaedia of Religion (12 ed.). Italy: MacMillan Publishing Company.

Ernas, S. (2018). Dari Konflik ke Integrasi Sosial: Pelajaran dari Ambon-Maluku. International Journal of Islamic Thought, 14(1), 99–111. https://doi.org/10.24035/ijit.14.2018.009

Frost, N. (2004). Adat di Maluku: Nilai Baru atau Ekskusivisme Lama? Antropologi Indonesia, 74.

Goss, J. (2000). Understanding the “Moluccas Wars”: Overview of Sources of Communal Conflict and Prospects of Peace. Cakalele, 11.

Hehanussa, J. (2009). Pela dan Gandong: Sebuah Model untuk Kehidupan Bersama dalam Konteks Pluralisme Agama di Maluku. Gema Teologi, 33(1).

Hoedodo, T. S., Surjo, J., & Qodir, Z. (2013). Local Political Conflict and Pelaa Gandong Amidst the religious Conflicts. Jurnal Studi Pemerintahan, 4(2).

Lattu, I. Y. M. (2012). Culture and Christian-Muslim Dialogue in Moluccas-Indonesia. Interreligious Insight, 10(2).

Latupapua, Y. (2015). Ritual Sebagai Daya Tarik Ekowisata di Desa Nounea Kabupaten Maluku Tengah. Kawistara, 5(3), 221–328.

Makaruku, S. (2013). Pela sebagai Sarana Penyelesaian Konflik antara Suku Alune dan Wemale Di Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Magister Hukum Udayana, 2(1), 1–13.

Malatuny, Y. G., & Patra Ritiauw, S. (2018). Eksistensi Pela Gandong Sebagai Civic Culture Dalam Menjaga Harmonisasi Masyarakat Di Maluku. SOSIO DIDAKTIKA, 5(2).

Manuhutu, R., Purwiyastuti, W., & Widiarto, T. (2017). Budaya Pela Gandong Di Negeri Haria Sebagai Alat Pemersatu Dan Perdamaian Orang Maluku Tengah. Widya Sari, 17(2).

Mishbah, A. K. (2007). Pelagandong Sebagai Basis Pembinaan Kerukunan Umat Beragama Di Kota Ambon. Al-Qalam, 20(8).

Mitchel, J. C. (1969). Social Network in Urban Situations. Manchester: Manchester University Press.

Montana, O., Loisa, R., & Utami, L. S. S. (2019). Masyarakat dan Kearifan Budaya Lokal (Bentuk Pela Masyarakat di Negeri Batu Merah Kota Ambon Pasca Rekonsiliasi). Koneksi, 2(2), 507. https://doi.org/10.24912/kn.v2i2.3930

Ode, S. (2015). Budaya Lokal Sebagai Media Resolusi dan Pengendalian Konflik di Provinsi Maluku. Politika, 6(2).

Pamungkas, C. (2014). Agama, Etnisitas, Dan Perubahan Politik Di Maluku: Refleksi Teoretik Dan Historis. Masyarakat Indonesia, 40(2014).

Pattiselano, J. T. . (2014). Tradisi Uli, Pela dan Gandong pada Masyarakat Seram, Ambon, dan Uliase. Antropologi Indonesia, 58(58). https://doi.org/10.7454/ai.v0i58.3365

Ralahallo, R. N. (2009). Kultur Damai Berbasis Tradisi Pela Dalam Perspektif Psikologi Sosial. Jurnal Psikologi, 36(2).

Ruhulessin, J. C. (2005). Etika Publik: Menggali dari Tradisi Pela di Maluku. Salatiga: Satya Wacana University Press.

Rumahuru, Y. Z. (2013). Agama sebagai Fondasi Perkembangan Masyarakat dan Perubahan Sosial: Studi Kasus Orang Hatuhaha di Negeri Pelauw Maluku Tengah. Harmoni, 12(1).

Runturambi, S. (2013). Pentingnya Analisa Jaringan Sosial dalam Menelusuri Budaya Menyimpang di Lembaga Pemasyarakatan. Antropologi Indonesia, 34(1).

Solissa, A. B. (2014). Falsafah Pela Gandong dan Toleransi Beragama Dalam Masyarakat Ambon Yang Mulitikultural. Refleksi, 14(2).

Tanahitumesseng, E. (2017). Makna Menstruasi Bagi Perempuan Suku Naulu-Dusun Rohua Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku. IJWS Brawijaya, 5(1), 1–15.

Thomas, F. (2010). Wacana Tradisi Pela Dalam Masyarakat Ambon. Bahasa dan Seni FKIP Universitas Pattimura Ambon, 38(2), 166–180.

Titaley, E. (2018). Pela Dan Gandong Culture As Basic of A Network Formation For Poverty Alleviation In The Village. Advances in Social Sciences Research Journal, 5(3).

Turner, B. S. (2012). Relasi Agama dan Teori Sosial Kontemporer. Yogyakarta: IRCiSoD.

Turner, V. (1969). The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. New York: Cornell University Press.

Turner, V. (1982). The Forest of Symbols, Aspects Of Ndembu Ritual. London: Cornell University Press.

Valeri, V. (2000). The Forest of Taboos: Morality, Hunting, and Identity Among the Huaulu Of The Moluccas. Madison: The University Of Wisconsin Press.




DOI: http://dx.doi.org/10.21043/fikrah.v7i1.5021

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan is published by

Prodi Aqidah dan Filsafat Islam IAIN Kudus incorporate with

Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam.

Jl. Conge Ngembalrejo Bae Kudus Po Box. 51
Phone: +6285648082247 or +6282331050629
Website: http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/fikrah
Email: fikrah@stainkudus.ac.id

ISSN: 2354-6174 | EISSN: 2476-9649

Creative Commons License
Fikrah Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan by Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Jurusan Ushuluddin IAIN Kudus is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.